Bisnis Sampingan, Jual Kue Nastar Ke Singapore

Membuat Nastar Indonesia Jadi Kue Mahal di Singapura  
(Dok. Toko Bengawan Solo)

Jakarta, CNN Indonesia — Sebagai wanita berkebangsaan Indonesia, Tjendri Anastasia atau sekarang dikenal sebagai Nyonya Liew, tidak mau kue tradisional Indonesia juga ketinggalan dengan kue-kue internasional papan atas lainnya. Oleh sebab itu Nyonya Liew bertekad untuk membawa kue tradisional Indonesia untuk naik pangkat dan diakui di manca negara.

Anastasia Liew pindah ke Singapore dan menikah dengan Liew yang merupakan kewarganegaraan Singapura. Sejak pindah ke sana, Nyonya Liew mengekspresikan kecintaannya terhadap tanah air melalui pembuatan kue-kue tradisional Indonesia.

Awalnya ia hanya menerima pesanan kue di rumah sejak 1979. Itu pun tidak mudah perjalanannya. Dia pernah diminta oleh Kementerian Lingkungan Singapura untuk menutup usahanya karena tidak menjual produk makanan yang memiliki izin yang sah dari pemerintah setempat. Namun Nyonya Liew tidak berhenti. Sampai akhirnya dia sukses mendirikan toko kue Bengawan Solo yang pertama di Marine Terrace Singapore.

Bengawan Solo di Singapura terkenal dengan kue nastarnya (Pineapple Tarts), kue chiffon pandan, dan lapis legit, yang digemari banyak masyarakat Singapura dan turis-turis asing lainnya, bahkan orang Indonesia sendiri.

Nyonya Liew telah sukses membuka hingga 38 cabang toko kue Bengawan Solo. Bahkan salah satu cabangnya terletak di Changi Airport sebagai salah satu toko oleh-oleh yang ditonjolkan oleh Singapura. Pabrik Bengawan Solo terletak di 23 Woodlands dan dalam sehari pabrik selalu mengirim produk-produk kue hingga 2-3 kali untuk satu cabang toko. Harga kue-kue di Bengawan Solo termasuk high class. Satu kotak nastar dijual dengan harga S$35 atau setara hampir 350.000 rupiah.

Nyonya Liew mengatakan anak muda Indonesia zaman sekarang harus membanggakan produk dalam negeri sendiri, daripada kita membuang uang hanya untuk membeli produk mahal yang diciptakan oleh negara lain. Sebagai warga negara Indonesia, sudah kewajiban kita untuk dapat mencintai produk lokal dan mempromosikan kepada negara lain dan menunjukkan bahwa produk ciptaan Indonesia tidak kalah dengan produk internasional lainnya. (std/std)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *