Pengalaman Kuliah di Jurusan Agribisnis

http://www.bebeja.com/wp-content/uploads/2012/08/agribusiness.jpg

“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman….”

Cuplikan syair Kolam Susu yang dipopulerkan oleh band legendaris Koes Plus ini cukup menggambarkan betapa suburnya tanah kita, tongkat kayu dan batu saja bisa menjadi tanaman, ajaib bukan? Tidak heran bangsa ini memiliki julukan “Gemah Ripah Loh Jinawi”.
Tapi sekarang, coba tanyakan pada diri kita masing-masing, masih layakkah negara ini menyandang julukan  “Gemah Ripah Loh Jinawi”?
Pertanyaan tersebut menjadi tantangan bagi kita semua, khususnya bagi mereka yang muda dan terpanggil untuk berkontribusi pada negeri ini di bidang pertananian. “Gemah Ripah Loh Jinawi” merupakan ungkapan Jawa kuno yang mengalami penyerapan dalam bahasa Indonesia merujuk pada kesuburan tanah air kita. Ironi negeri gemah ripah loh jinawi… SDA yang katanya berlimpah, tapi masih impor pangan. Lalu, apa kabar dengan kemandirian dan ketahanan pangan?
Selama ini pertanian identik dengan pekerjaan para orang tua yang rentan dan tak memiliki pilihan pekerjaan lain. Sementara para pemuda cenderung memilih pekerjaan yang menurut mereka lebih menjanjikan dan bergengsi. Banyak petani yang tak berdaya dan hidup di bawah garis kemiskinan. Pengelolaan pertanian yang belum berorientasi  bisnis, mengakibatkan usaha tani menjadi kurang menarik secara ekonomis, karena belum mampu memberikan jaminan sebagai sumber pendapatan untuk hidup secara layak.

Belum lagi jika berbicara tentang kesejahteraan petani, kerusakan lingkungan, kemarau panjang akibat El Nino. Paradoks. Bukan hanya cacat sistem, tapi aura politis dari produk pertanian tidak bisa dipungkiri terutama di tiga komoditi penting yang cukup jadi perhatian Bank Indonesia—saya pernah menjadi bagian dari tim riset BI—yaitu cabe merah, bawang, dan beras yang terpaksa harus impor agar harga-harga tidak fluktuatif. Tak heran jika beberapa media asing menyebut Indonesia telah masuk dalam food trap (jebakan pangan).

Kabar baiknya, saat ini jurusan yang mendalami ilmu pertanian dari berbagai aspek sudah banyak berkembang di negeri ini, dan itu patut kita syukuri. Di Institut Pertanian Bogor (IPB) sektor pertanian sudah sangat inovatif dan adaptif. Tapi jangan salah, di Universitas Padjadjaran pun pertanian menjadi salah satu concern pengembangan keilmuan. Fakultas Pertanian sudah ada di Unpad sejak 1959. Selanjutnya, saya akan fokus bercerita tentang jurusan saya yang cukup menarik dari luar dan dalam. Hehe.

Program studi Agribisnis di Unpad masuk ke fakultas pertanian, tapi kalau di IPB termasuk fakultas ekonomi, dulu masih jurusan sosial ekonomi pertanian. Kenapa berganti nama? Jika diperhatikan, bisa jadi ada faktor adaptasi kekinian, dan memang keilmuan yang berkembang di dalamnya pun berorientasi bisnis. Terdapat tiga “laboratorium” atau fokus keilmuan yang bisa dipilih, yaitu Lab. Pembangunan, Lab. Sosial, dan Lab. Manajemen & Bisnis.
Jika ditinjau dari perspektif umum, program studi ini mempelajari bisnis, manajemen, sosial dan pembangunan dari kacamata pertanian, dan fokus keilmuannya di pertanian yang produknya punya tiga karakter penting, yaitu cepat busuk, produknya bervolum, dan bersifat biologis. Sehingga butuh perlakuan khusus.
Jadi... kenapa saya memilih jurusan ini?

Jawaban jujurnya, Agribisnis ini merupakan pilihan ketiga saya setelah Manajemen UI dan Manajemen Unpad. Terkesan pilihan sisa dan bukan minat utama saya. Pas awal perkuliahan pun saya menjalaninya setengah hati, karena mayoritas teman saya kuliah di UI dan ITB, kalaupun Unpad masuknya jurusan favorit seperti kedokteran. Maklum, mahasiswa baru, masih labil. Hehe.
Tapi ya.. itulah rahasia yang di atas. Dengan kuasaNya, ini semua menjadi jalan hidup saya. Pada 1 September 2009 saya menghadiri kuliah umum oleh Arifin Panigoro (Founder Medco Group) dengan tema Quo Vadis Sarjana Pertanian. Waktu itu beliau memaparkan tentang pekerjaan rumah pertanian Indonesia dan bercerita mengenai kunci kemandirian pangan dan semangat inovasi, pemanfaatan lahan—salah satu inovasi SRI (System of Rice Intensification).

Di tahun 2013 saya memilih komoditas beras organik yang menggunakan sistem SRI sebagai objek penelitian saya dengan judul Green Supply Chain Management. Dengan membuktikannya sendiri, saya semakin yakin pertanian masa depan akan lebih baik. Saya tidak lagi menyesal, bahkan saya ingin menjadi bagian dari perubahan tersebut. Jika negara asing memiliki nuklir, tank baja, dan teknologi lainnya, Indonesia punya beras, cabe, rempah-rempah, dan komoditas pertanian lainnya untuk jadi alat perang menghadapi globalisasi, CAFTA, Free Trade, dan ASEAN Economic Community.
Wah, ternyata PR kita masih banyak ya? Jadi, masih banyak peluang buat kamu, aku, dan kita semua untuk ambil bagian dan berkontribusi di sektor pertanian. Lantas pertanyannya adalah, “Apakah kamu terpanggil untuk ikut andil dalam perbaikan bangsa ini di sektor pertanian?“
More info: www.faperta.unpad.ac.id
(*)
Lika Lulu | @likalulu
Agribisnis 2009, Unpad
Manajemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan  2014 (master), Unpad
[email protected]

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *