Pengalaman Kuliah Jurusan Kehutanan

 

Ini catatan obrolan saya dan seorang mahasiswa kehutanan UGM di kereta Malioboro Ekspres, tujuan Jogja dari Malang. Dia baru pulang dari naik gunung Rinjani, Lombok. Perjalanan Jogja-Banyuwangi-Lombok ditempuh dengan sepeda motor. Mereka berempat seregu. Sepulang dari Rinjani dia mampir ke rumah keluarga ibunya di Malang.
Saat saya tanya-tanya kenapa milih jurusan kehutanan…

“Saya dulu suka banget matematika, Mas. Pernah ikut lomba robotik juga dan menang. Hadiah juara tiga lomba robotik di sebuah kampus negeri di Jawa Timur itu adalah tawaran masuk jurusan informatika tanpa tes, plus beasiswa penuh untuk enam semester. Lumayan kan, Mas, uang sekolah dibayarin gitu. Tapi, saya tolak karena saya juga keterima di jurusan kehutanan UGM. Waktu itu saya sadar bahwa saya sangat suka dengan matematika. Cuma saja rasa-rasanya saya tidak akan melanjutkan bermain-main dengan angka yang semakin lama semakin terasa abstrak. Saya ingin mempelajari sesuatu yang konkrit. Kebetulan dari SMA saya sudah sering naik gunung. Saya senang sekali berada di alam bebas walaupun harus berat-berat bawa carrier dan bersusah-susah karena minum dan makan dibatasi. Belum lagi kalau hujan, kalau ada yang jatuh sehingga butuh dibopong, atau pas persediaan air habis. Kalau sudah air yang habis itu rasanya… ga nahan, Mas!”

Saat saya tanya-tanya tentang cita-citanya setelah lulus…

“Setelah waktu itu saya beritikad beralih dari angka-angka ke hal-hal yang lebih konkrit, saya masih saja bertemu dengan angka-angka pas kuliah di kehutanan. Ya memang tidak bisa dielakkan, mahasiswa harus bisa bermain angka dan mengolah data. Tapi, makin kesini saya semakin menemukan keseruan dalam jurusan saya, yaitu soal manajemen kehutanan. Hutan kan tidak cuma soal pelestarian vegetasinya dan wisata alam. Lebih dari itu, kita juga akan terlibat tentang bagaimana hutan, terutama di daerah pegunungan, menjadi sumber air, bagaimana perusahaan tambang/geothermal harus mengatur soal perijinan membuka lahan dan nantinya aturan membuang limbah, serta bagaimana melihat hutan sebagai bagian dari mata pencaharian penduduk setempat. Nah, saya suka tuh kalau sudah banyak berkaitan dengan manajemen dan mempelajari manusia.”

Saat saya tanya-tanya tentang pengalaman naik gunungnya… *agak out of topic sih ini, anggap aja bonus ya 😀

“Serunya di kehutanan, saya ketemu banyak teman-teman yang juga suka naik gunung, pecinta alam. Pengukuhan mahasiswa baru (baca: ospek) kami saja harus ke gunung. Saya dan teman-teman sih kalau di Jawa Tengah sudah hampir semua gunung dinaikin. Jawa Timur sebagian besar. Terus ke Rinjani sudah. Jawa Barat dan Sumatera yang belum. Masih mikirin biayanya sih, hehe. Oh ya, sekarang biaya naik gunung naik. Sampai 5 kali lipat! Kasihan bule-bule… sudah bayaran awalnya emang udah jauh lebih mahal, ikutan naik pula! Yang ada makin sedikit wisatawan asing yang datang ke sini, untuk melihat keindahan Indonesia. Hmm… kalau bule naik gunung sih enak, bisa sewa tukang angkat carrier, sehari 100-150 ribu. Kalau kami ya ngangkat sendiri. Kalau kita 3 hari naik-turun, bule paling lama dua hari sudah nyampe posko lagi.”

Sekian catatan tentang jurusan kehutanan, saya secara sengaja “mewawancarai” dia—duh, lupa namanya—dan syukur anaknya memang suka cerita.
image Sumber: http://www.backpackerindonesia.com/
Hutan memang sudah jadi bagian hidup kita. Dimana ada kepentingan—misalnya konservasi air, potensi tambang/geothermal, dan mungkin perkebunan—pasti bakal ada konflik, sehingga dibutuhkan keahlian manajerial. Jadi, Indonesia butuh orang-orang yang pandai “menjaga hutan”.
Oh ya, saya juga baru tahu bahwa hutan—pada luas yang cukup—punya iklim/siklus cuaca sendiri, iklim lokal istilahnya, yang tidak dipengaruhi oleh iklim geografis yang lebih luas. Aneh ya, hehe.
(*)
Disarikan oleh @beningtirta

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *