Pengalaman Kuliah Jurusan Pariwisata

Mungkin kita mulai dengan pertanyaan, “Kenapa Pariwisata?”

Saya memilih kuliah di bidang pariwisata karena sesuatu yang simple. Karena hobi jalan-jalan? Bukan. Karena pengen keliling Indonesia dan bahkan dunia? Bukan. Karena cinta pariwisata Indonesia? Bukan juga, haha.

Saya dulu tertarik di bidang pariwisata karena saya suka seragamnya. Serius. Kampus saya ini letaknya dekat dengan Lembang dan UPI Bandung. Dulu, saya suka main ke daerah Lembang, dan tiap ngelewatin calon kampus saya waktu itu, di depannya selalu ada anak-anak perempuan yang pakai seragam putih, berdasi, rok selutut dan sepatu hak, cantik dan murah senyum… begitu juga yang laki-laki, mereka rapi sekali, pakai pantofel, berkerah dan berdasi. Menurut saya itu keren 😀 Sama halnya waktu saya lagi ke UPI ada anak-anak jurusan MRL (Management Resort and Leisure) yang sama aja kaya pariwisata, mereka juga rapi-rapi, cantik dan cakep. Seneng aja ngelihatnya..
Terus dulu waktu lulus SMA, saya daftar kemana-kemana. Bingung pilih jurusan yang sesuai passion atau jurusan yang memudahkan kita untuk bekerja nantinya? Yang negeri—agar tidak membebani orang tua—atau swasta? Akhirnya, waktu SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) saya coba daftar ke MRL UPI dan Sastra Inggris UPI. Dengan alasan kenapa MRL adalah saya penasaran, kalo Sastra Inggris karena saya menyukai bahasa Inggris dan ingin memperdalamnya.

Tapi Allah tidak mengizinkan saya untuk masuk di salah satu jurusan tersebut, huhu. Kemudian saya mencoba untuk daftar di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung yang seleksinya tidak bersamaan dengan SPMB. Dengan penuh ketidaktahuan dan hanya dengan alasan suka sama penampilan mereka, saya mendaftarkan diri untuk jurusan Administrasi Perhotelan, Manajemen Bisnis Pariwisata, dan Manajemen Destinasi Pariwisata. Saat pertama kali daftar, ada penjelasan dari pihak kampus bahwa semua jurusan yang saya pilih itu adalah Diploma 4 (D-4)… jujur saya tidak tahu sama sekali bahwa ada jenjang pendidikan D-4, yang saya tahu cuma D-3 dan S-1. Ternyata D-4 itu mirip dengan D-3 dalam artian lebih banyak praktek daripada teori. D-3 itu kuliah 3 – 3,5 tahun dan D-4 itu 4-4,5 tahun seperti S-1. Memang belum banyak orang yang tahu mengenai D-4, tapi dalam dunia pariwisata D-4 itu setara dengan S-1. Gelar yang diterima pun sama-sama Sarjana… D-4: Sarjana Sains Terapan Pariwisata (S.S.T.Par.) dan S-1 : Sarjana Pariwisata (S.Par.)

Singkat cerita saya diterima di jurusan Kepariwisataan, program studi Manajemen Destinasi Pariwisata. Selama perkuliahan saya mendapatkan ilmu mengenai bagaimana me-manage sebuah destinasi pariwisata, apa saja komponen-komponen pariwisata, bagaimana sebuah destinasi pariwisata bisa terbentuk, dan sebagainya.

Selama ini orang-orang hanya tahu soal rekreasi semata, padahal di balik itu semua ada hal-hal penting yang mendukung. Di jurusan pariwisata kita bisa mengenal hal-hal unik mengenai pariwisata secara luas, seperti bagaimana kita merencanakan sebuah tempat menjadi sebuah rekreasi, pemasarannya yang berkaitan dengan politik, kebijakan, teknologi, trend dunia, dan sebagainya, apa saja hal-hal yang harus diperhatikan untuk kenyamanan wisatawan, bagaimana menghadapi wisatawan luar negeri dan dalam negri… ah, luas banget deh pokoknya.

Selain teori, saya juga mendapatkan mata kuliah praktek yang diadakan setiap 3 bulan sekali. Prakteknya berupa field trip mendatangi objek-objek wisata di Indonesia, dan setiap mahasiswa harus menerapkan apa yang sudah dipelajari di dalam kelas. Setiap mahasiswa mengisi checklist pembelajaran.

Dan selama kuliah saya sudah mendatangi banyak destinasi-destinasi pariwisata di Indonesia, seperti di  Garut, Cirebon, Pangandaran, Sukabumi, Lampung Timur, Lampung Selatan, Baduy Dalam, Malang-Bromo, Banyumas, bahkan di Malaysia dan Singapura juga. Sungguh pengalaman yang berharga. Poinnya bukan di tempat rekreasinya, tapi pada saat di lapangan kita bisa tahu bagaimana kondisi destinasi-destinasi pariwisata di Indonesia yang disesuaikan dengan materi kuliah yang sudah saya dapat. Saya tersadar, “ Waw… ternyata pariwisata itu luas loh, ga cuma jalan-jalan haha-hihi, foto-foto sama kerabat/keluarga.“ Kami belajar bagaimana harus memperhatikan akses menuju destinasi tersebut, bagaimana kondisinya, bagaimana toiletnya, ada berapa jumlahnya, bagaimana kondisi airnya, ada berapa tong sampah yang tersedia, ketersediaan Tourist Information Center, ketertiban pedagang-pedagangnya, dan masih banyak lagi.
Dan… destinasi di Indonesia ini bukan cuma Bali! Selama ini wisatawan luar negeri tahu Indonesia cuma itu. Ya, Bali memang perkembangan pariwisatanya pesat sekali, tapi sebenarnya banyak sekali destinasi indah di Indonesia yang tidak kalah indah dengan Bali. Dan… pariwisata itu bukan cuma pantai! Pariwisata itu bisa berupa desa wisata—tempat yang menjual keaslian adat dan istiadat desa untuk menarik wisatawan—terus ada adventure tourism yang menawarkan pariwisata ekstrim seperti menjelajahi sebuah goa, heritage (bangunan-bangunan tua bersejarah), wisata perkotaan, dan masih banyak lagi.
Lulusan dari jurusan saya bisa bekerja menjadi pemandu wisata, konsultan pariwisata, marketing sebuah destinasi pariwisata, bekerja di manajemen hotel atau kementerian pariwisata.
 Kira-kira begitulah kalo adik-adik memilih jurusan terkait industri pariwisata. Cocok untuk adik-adik yang ingin turut serta membangun dan mengembangkan destinasi pariwisata di Indonesia menjadi lebih baik dan tidak kalah dengan destinasi-destinasi pariwisata di luar negeri. Kita pasti pengen dong banyak destinasi di Indonesia dikenal oleh dunia??
Kalo adik-adik pilih jurusan ini, pasti makin cinta sama Indonesia! 🙂
 (*)
Riana Dwianny | @reriana_
Manajemen Destinasi Pariwisata 2009
Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung
[email protected]

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *