Pengalaman Kuliah Jurusan Teknik Fisika

 

Sebelum memulai membaca tulisan ini, ada baiknya kita samakan persepsi demi menghindari kesalahpahaman, hehe. Jurusan Teknik Fisika berbeda dengan jurusan Fisika. Sesuai namanya, Teknik Fisika adalah jurusan di bidang teknik, sedangkan Fisika adalah salah satu cabang sains. Di luar negeri, Teknik Fisika dikenal dengan sebutan Engineering Physics atau Applied Physics.
Merasa kurang familiar dengan nama Teknik Fisika? Wajar, karena di Indonesia hanya beberapa universitas yang menawarkan jurusan ini, di antaranya adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Telkom University.

Teknik Fisika adalah jurusan yang mempelajari fenomena-fenomena fisis dari seluruh ilmu keteknikan yang ada, sekaligus mempelajari aplikasi-aplikasi hukum sains untuk merekayasa suatu teknologi. Singkatnya, Teknik Fisika adalah jembatan penerapan teknologi.
Teknik Fisika menjembatani sains dan teknik, menjadi penghubung antara scientist dan engineer. Ketika kamu berada di SMP atau SMA dan mempelajari berbagai hukum fisika, pasti pernah terlintas pertanyaan, “Untuk apa sih semua rumus ini? Memangnya terpakai di kehidupan sehari-hari?” Nah, di Teknik Fisika-lah kamu bisa menemukan jawabannya. Di Teknik Fisika, kita mempelajari bagaimana teori-teori yang terlihat tidak berguna, ternyata dapat dimanfaatkan untuk menciptakan teknologi yang canggih. Juga ketika kamu melihat penemuan-penemuan hebat seperti robot dan film tiga dimensi yang membuat kamu bertanya, “Kok bisa sih? Bagaimana cara kerjanya?”, di Teknik Fisika pulalah kita mempelajari prinsip-prinsip sains di baliknya.

Selain itu, Teknik Fisika juga merupakan jembatan yang menghubungkan satu bidang engineering dengan bidang engineering lainnya. Jangan heran jika anak-anak Teknik Fisika bisa memahami bukan hanya bahasa anak-anak Fisika, tetapi juga bahasa anak-anak Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknik Material, bahkan hingga Informatika dan Arsitektur. Karena ilmu Teknik Fisika sangat luas dan mencakup seluruh bidang teknik, maka orang-orang di jurusan ini mampu melihat suatu masalah keteknikan dengan sudut pandang yang lebih menyeluruh.

Ketika kita berkuliah di Teknik Fisika, kita cenderung diarahkan untuk menjadi seorang generalist (paham-segala). Baru di semester-semester akhir kita dapat memilih sendiri bidang spesialisasi yang ingin kita dalami sesuai dengan minat masing-masing. Beberapa contoh bidang konsentrasi yang terdapat di jurusan Teknik Fisika sebagai berikut:
1. Fisika Bangunan
Pada dasarnya, fisika bangunan mempelajari tentang bagaimana menciptakan kondisi bangunan dan lingkungan yang memberikan kenyamanan bagi orang-orang di dalamnya, dengan meninjau tiga aspek yaitu aspek akustik, pencahayaan, dan termal.
imageZerohouse (sumber: inhabitat.com).
Aspek akustik berhubungan dengan kenyamanan pendengaran. Contohnya ketika kita ingin membuat ruang konser orkestra yang suaranya dapat didengar dengan jelas oleh penonton hingga di pojok belakang ruangan tanpa bantuan sound system. Ilmu akustik juga bisa digunakan untuk mengidentifikasi suara, sehingga tak jarang seorang ahli forensic acoustic dipanggil menjadi saksi ahli dalam persidangan untuk menentukan keaslian suara seseorang pada sadapan telepon.
Sementara itu, aspek pencahayaan berhubungan dengan kenyamanan penglihatan. Kita bahkan bisa menciptakan efek atau kesan psikologis tertentu di suatu ruangan. Akan berbeda ketika kita mendesain pencahayaan untuk kafe dengan ruang rapat bukan?
Terakhir, aspek thermal berhubungan dengan kenyamanan kulit. Contohnya, bagaimana membuat ruangan tetap nyaman baik di siang hari yang panas maupun di malam yang dingin, dengan sesedikit mungkin menggunakaan “jasa” pendingin ataupun pemanas ruangan.
2. Instrumentasi dan Kontrol
imageArduino, salah satu komponen microcontroller (sumber: wikipedia)
Bidang instrumentasi dan kontrol adalah bidang yang paling luas aplikasinya. Di industri proses seperti pabrik kimia misalnya, keilmuan instrumentasi digunakan untuk memahami dan merancang kinerja alat-alat pengukuran dan pengendalian, sementara ilmu kontrol berkaitan dengan cara kita mengatur berbagai proses di pabrik tersebut. Tak hanya di industri proses, ilmu ini juga diaplikasikan untuk membuat peralatan medis seperti USG dan MRI, membuat kursi roda yang dapat digerakkan melalui pikiran, pembuatan fitur autopilot pada pesawat terbang, hingga ke penggunaan sinyal ultrasonik untuk mengetahui formasi batuan di bawah tanah. Berbagai macam robot, gadget, dan teknologi-teknologi terkini, juga tak mungkin lepas dari penerapan ilmu instrumentasi dan kontrol.
3. Material
image Graphene, material yang bisa digunakan sebagai biosensor yang sensitif (sumber: iknowtoday.com)
Selain melakukan rekayasa terhadap sifat material yang telah ada, Teknik Fisika juga ikut berperan dalam menciptakan material-material baru yang digunakan secara luas di industri. Teknik Fisika mempelajari ilmu pembuatan material mulai dari tahap desain menggunakan simulasi komputer, hingga ke tahap produksi untuk kemudian diuji dan bisa dimanfaatkan. Aplikasi yang ada antara lain: mendesain biosensor yang dapat mendeteksi dan menyerang sel kanker yang ada di tubuh pasien secara langsung, material untuk sumber energi alternatif, seperti fuel cell, solar cell, dan baterai, kemudian pembuatan berbagai macam sensor gas sebagai pendeteksi tingkat polusi udara, dan lain sebagainya.
Karena cakupan ilmunya yang luas dan sifatnya yang menjadi jembatan penghubung antara sains dan teknik, maka tak salah jika Teknik Fisika disebut sebagai frontier engineering, yakni keilmuan teknik yang berada di garda terdepan dalam merespon perkembangan sains murni, dalam konteks mengaplikasikan kemajuan ilmu sains dalam menciptakan inovasi dan rekayasa teknologi.
(*)
Hasna Afifah
Teknik Fisika 2009, ITB
Sustainable Energy Engineering 2014 (master), KTH Royal Institute of Technology
[email protected]

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *