Pengertian Tawaduk Menurut Rasulullah

padang pasir malam

Rasulullah duduk bercampur baur di antara para sahabatnya seakan-akan merupakan salah seorang dari mereka. Maka datanglah orang asing yang tidak mengetahui yang manakah beliau itu? Karena itulah, orang asing itu kemudian bertanya tentangnya.
Maka para sahabat meminta beliau untuk duduk pada suatu tempat yang dapat diketahui oleh orang asing. Para sahabat membangun untuknya tempat duduk dari tanah liat. Kemudian beliau duduk di atasnya.

‘Aisyah RA berkata kepada Rasulullah, “Makanlah dengan bersandar, semoga Allah menjadikan aku tebusan untukmu. Karena sesungguhnya makan dengan bersandar itu lebih mudah untukmu.”
Perawi hadis berkata, maka beliau menundukkan kepala sehingga dahinya hampir menyentuh tanah. Kemudian beliau bersabda:

“Aku adalah seorang hamba. Aku makan sebagaimana makannya seorang hamba dan aku duduk sebagaimana duduknya seorang hamba,” (HR Abu Syaikh dari Abdullah bin Ubaid).
Rasulullah tidak makan di atas meja dan tidak pula makan dengan piring hingga beliau berpulang ke Rahmatullah. Beliau tidak pernah dipanggil oleh sahabatnya atau orang lain, melainkan menjawab: “Labbaik (aku memenuhi panggilanmu),” (HR Abu Nu’aim dari Aisyah).

Apabila Rasulullah duduk bersama-sama dengan orang-orang dan mereka membicarakan tentang akhirat, maka beliau ikut pembicarakan mereka.

Apabila mereka berbicara tentang makanan atau minuman, maka beliau ikut berbicara bersama mereka. Apabila berbicara tentang dunia, maka beliau ikut berbicara bersama mereka dengan kasih sayang dan tawadhu’ terhadap mereka.
Para sahabatnya mendendangkan syair di hadapan Rasulullah dan menyebutkan sesuatu dari perkara Jahiliyah, lalu mereka tersenyum tersenyum bersama mereka. [dry/islampos].
Referensi: Akhlak Mulia Rasulullah/Al-Ghazali/Al-Kautsar/2004

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *