Rakor, Mendikbud Bahas Kisi-Kisi UN 2016

Siswa bersiap mengikuti ujian nasional. (Foto: dok. Okezone)
Siswa bersiap mengikuti ujian nasional. (Foto: dok. Okezone)

JAKARTA – Sebagai persiapan Ujian Nasional (UN) 2016, Mendikbud Anies Baswedan mengadakan rapat koordinasi dengan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani. Salah satu yang dibahas adalah kisi-kisi ujian untuk semua jenjang pendidikan.
“Hasilnya, pada kisi-kisi UN 2016 kita bandingkan kompetensi dasarnya, baik pada siswa yang menggunakan Kurikulum 2013 maupun kurikulum 2006. Komponen dasar yang sama di antara kedua kurikulum itulah yang akan dijadikan soal pada ujian nasional nanti,” ungkap Anies Baswedan di Kemenko PMK, Senin (7/12/2015).

Misalnya kisi-kisi matematika pada Kurikulum 2013 adalah tentang operasi pada bilangan bulat dan pecahan. Sedangkan di Kurikulum 2006 lebih membandingkan dan mengurutkan bilangan bulat serta mengurutkan operasi bilangan bulat dan pecahan. Anies menyebut, yang akan diambil sebagai kisi-kisi-kisi yakni pada operasinya.

“Jadi kita bandingkan dua kompetensi tersebut dan diambil kompetensi yang sama. Kemudian dibuat soalnya,” ujarnya.

Karena itulah, imbuh Anies, bisa jadi soal ujian dari kurikulum 2013 maupun 2006 akan sama karena mengambil kompetensi yang sama tadi. Anies menegaskan, kekhawatiran masyarakat akan perbedaan soal tidak beralasan karena mereka belum tahu materi UN yang akan dikeluarkan tersebut.

Rakor juga membahas pelaksanaan UN di daerah yang terkena bencana asap. Kemdikbud pun membagi pelaksanaan UN di daerah tersebut dalam dua kategori. Pertama, terdiri dari Jambi dan Kalimantan Tengah. Sedangkan kategori kedua meliputi tujuh daerah yakni Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

“Pada tujuh daerah tersebut ternyata mereka tidak terlalu banyak libur. Tidak separah dengan yang dua daerah. Jadi, mereka masih bisa mengikuti UN pada jadwal yang telah ditetapkan. Namun, ujian sekolah di Jambi dan Kalimantan Tengah ujian sekokahnya yang harus mundur setelah UN,” paparnya.

Selain itu, Menteri Puan juga meminta agar indeks integritas tentang kejujuran bisa lebih disosialisasikan lagi di masyarakat.

“Masih banyak masyarakat menganggap yang penting hanya kelulusan, padahal ada indeks kejujuran. Selain itu, juga perlu sosialisasi lebih luas bahwa UN bukan lagi penentu kelulusan,” tandas Puan.
Tahun depan, pemerintah akan menyelenggarakan Ujian Nasional (UN) dalam tiga tahapan. UN pertama, merupakan ujian perbaikan bagi peserta UN tahun 2015 yang belum memenuhi standar kompetensi lulusan (SKL) pada satu atau lebih mata pelajaran, dan berkeinginan memperbaikinya. UN kedua, merupakan ujian utama tahun 2016 dengan kisi-kisi baru. Dan UN ketiga, merupakan perbaikan bagi peserta UN tahun 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *