Lowongan dibuka s/d 17 Januari 2017

Selamat Hari Santri Nasional

Hari Santri, Penghormatan terhadap Sejarah
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (kiri) didampingi Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini (kanan) memberikan keterangan pers terkait peringatan Hari Santri Nasional. (ANTARA | SIGID KURNIAWAN

Setidaknya ada dua alasan hari santri perlu dikukuhkan dan diperingati. Pertama, sebagai penghormatan atas jasa pahlawan. Pengakuan semacam ini penting bagi generasi sekarang agar tak tercerabut dari kampung halaman sejarahnya.

Kedua sebagai pembangkit patriotisme. Ini relevan sebab sejumlah gagasan yang belakangan bermunculan di Indonesia tidak banyak yang sungguh-sungguh memiliki komitmen keindonesiaan.

Kedua alasan itu dikemukakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. Santri, kata dia, adalah masyarakat Indonesia yang beragama Islam, bukan sekadar muslim yang kebetulan berada di Indonesia. Kecintaan terhadap Tanah Air selalu mengatasi sentimen keagamaan.

Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) KH Abdul Ghoffar menilai langkah Presiden Jokowi sudah tepat untuk memberikan penghormatan kepada santri. “Karena jasa-jasa pesantren di masa lalu yang luar biasa untuk memperjuangkan kemerdekaan serta mengawal kokohnya NKRI,” kata Gus Rozien.

Menurut Gus Rozien, latar belakang pentingnya Hari Santri Nasional untuk menghormati sejarah perjuangan bangsa ini. Hari Santri Nasional tidak sekadar memberi dukungan terhadap kelompok santri. Justru inilah penghormatan negara terhadap sejarahnya sendiri. Ini sesuai dengan ajaran Bung Karno bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah.

Gus Rozien mengatakan ada tiga argumentasi utama yang menjadikan Hari Santri Nasional sebagai sesuatu yang strategis bagi negara. Pertama, pada 22 Oktober menjadi ingatan sejarah tentang Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari. Ini peristiwa penting yang menggerakkan santri, pemuda, dan masyarakat untuk bergerak bersama, berjuang melawan pasukan kolonial yang puncaknya pada 10 Nopember 1945.

Kedua, jaringan santri telah terbukti konsisten menjaga perdamaian dan keseimbangan. Perjuangan para kiai jelas menjadi catatan sejarah yang strategis.

“Sepuluh tahun berdirinya NU dan sembilan tahun sebelum kemerdekaan, kiai-santri sudah sadar pentingnya konsep negara yang memberi ruang bagi berbagai macam kelompok agar dapat hidup bersama. Ini konsep yang luar biasa,” kata dia.

Ketiga, kelompok santri dan kiai-kiai terbukti mengawal kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Para kiai dan santri selalu berada di garda depan untuk mengawal NKRI, memperjuangan Pancasila.

Dia menyatakan pada Muktamar NU di Situbondo, 1984, jelas sekali rumusan Pancasila sebagai dasar negara. Bahwa NKRI sebagai bentuk final, harga mati yang tidak bisa dikompromikan.

Dengan demikian, kata dia, hari santri bukan lagi sebagai usulan atau pun permintaan dari kelompok pesantren. Ini wujud dari hak negara dan pemimpin bangsa memberikan penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri.

“Kontribusi pesantren kepada negara ini, sudah tidak terhitung lagi,” tutur Rozien.

Reportase : Arif Kusuma (Harnas.co)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *