Jurusan Psikologi Apakah Sama Dengan Psikiater?

 
Here’s about psychologist… Ini saya rangkum dari Anna Surti Nina di Twitter.
  • Pagi! Hari ini saya mau cerita dikit ah ttg gelar2 dari Fakultas Psikologi. Cek di #gelarpsi ya
  • Tujuan ngetwit #gelarpsi biar masyarakat lebih tau aja, spy gak tertipu sama yg malpraktek, jg bs gunakan jasa lulusan psi lbh pas
  • #gelarpsi yg mau diceritain adlh yg dari Indonesia aja, repot kalo gelar2 yg dari luar, banyak gitu lho
  • Dr temen2 psi, kalo twit #gelarpsi ada yg kurang pas, bilang2 ya, biar di-RT & pemahaman bersama jd lebih oke
  • #gelarpsi yg mau diceritain: Dra./Drs., S.Psi., Psi., Psikolog, M.Psi., M.Psi.T., M.Si., dan Doktor/Dr.
  • #gelarpsi yg paling cepet didapet mau gak mau = sarjana, gak ada akademi psi soalnya. kabarnya krn agak tll abstrak utk jd ilmu akademi
  • #gelarpsi sarjana adalah Dra./Drs. untuk lulusan dulu, sampai sktr th 1980an. Stlhnya dipakai S.Psi.
  • #gelarpsi Dra./Drs. sebetulnya beda sama S.Psi. Bedanya, kalo dulu sarjana udah bs praktek, kalo S.Psi. (aja) belum boleh praktek
  • Jd kalo dpt psikolog yg pny #gelarpsi Dra. (perempuan) / Drs. (laki) di thn ini, artinya beliau psikolog senior, cieeee… hihihi….
  • Jd wlp dulu Dra./Drs. diitungnya S1, tp #gelarpsi ini skrg disetarakan dgn s2.
  • Nah, kl ketemu sama #gelarpsi S.Psi., belum tentu boleh praktek tuh individu ini.
  • Inget, #gelarpsi S.Psi. utk sarjana keluaran thn 1990an ke atas, eh ke bawah ya? Maksudnya sampai sekarang masih dipake
  • #gelarpsi S.Psi. dicapai dlm waktu sktr 4 thn, ngelmu aja, belum pake kesempatan latihan praktek. Makanya gak boleh praktek
  • Artinya mereka yg hny ada #gelarpsi S.Psi. tanpa embel2 Psikolog, gak boleh praktek psikolog
  • Tp tenaaaang, #gelarpsi S.Psi. juga banyak bisanya kok! Mereka tetap jagoan!
  • Cth ‘kegunaan’ #gelarpsi S.Psi. adlh urusan HRD di kantor, urusan admin tes psikolog, observasi / wawancara org sbg jurnalis, guru TK, dll
  • Mrk yg pny #gelarpsi S.Psi. relatif lbh sensitif dibanding org awam utk mengenali pribadi org lain, krn kuliah 4 th utk ilmu psi
  • Gak berarti yg gak punya #gelarpsi S.Psi. gak sensitif lhoooooo
  • Nah, itu tadi secuplik #gelarpsi yg setara S1 (Dra./Drs. & S.Psi). Abis ini, sblum yg setara S2, ada gelar profesi
  • Jd gini, dulu tuh ada jaman2nya ktk kita kudu 144 sks, kudu lulus 4 th, maka kesempatan praktek dipisah dr kuliah keseluruhan #gelarpsi
  • Yg tadinya para #gelarpsi Dra./Drs. kuliah sambil praktek, sejak 1992 kuliah 4 tahun kuliah doang, tanpa praktek
  • Pdhl utk jadi psikolog, kudu punya kesempatan praktek jg. Masa gak ada latihannya, mau jadi apa? #gelarpsi
  • Terus dibuatlah Pendidikan Profesi 2 tahun, khusus utk latihan praktek sblm jd psikolog. Lulusannya punya #gelarpsi Psikolog
  • Sy dulu termasuk yg kuliah 2x utk dapet #gelarpsi Psikolog
  • Lucunya, dulu #gelarpsi Psikolog diberikan dgn menghilangkan S.Psi. Jd gelar sy yg sblmnya Anna Surti Ariani, S.Psi. jadi ASA, Psi.
  • Tp skrg penulisannya dibedakan jadi S.Psi., Psikolog. #gelarpsi S.Psi. utk gelar akademis (4 th kuliah teori), Psikolog utk gelar profesi
  • Jd #gelarpsi resmi saya kemarin2 adlh Anna Surti Ariani, S.Psi., Psikolog. Gelar k2 (Psikolog) penting utk bedain bhw sy psi praktek
  • Yg gak ada #gelarpsi Psikolog sbg gelar profesi, sebetulnya dilarang praktek, krn belum ikuti ‘latihan praktek’ 2 tahun itu.
  • Nah, krn Pendidikan Profesi tidak ada levelnya, maka dulu kami cm dianggap S1 plus. Kasian ya… #gelarpsi
  • Stlh sy lulus jd psikolog, kira2 thn 2000an, pendidikan profesi disetarakan dgn S2. OMG, sy cm dianggap S1 plus & mereka S2! #gelarpsi
  • Penyetaraan Pendidikan Profesi dgn Magister Psikologi itu menciptakan #gelarpsi M.Psi.
  • So, mari kita masuk ke macam2 #gelarpsi setara S2
  • Yg menarik, fakultas psikologi punya 3 #gelarpsi utk level S2: M.Psi., M.Psi.T, dan M.Si. Apa bedanya?
  • #gelarpsi M.Psi. hny bs diambil oleh mrk yg udah S.Psi., gak boleh dr gelar kesarjanaan yg bukan Psi
  • Cth yg pake #gelarpsi M.Psi. jadinya gini Blablabla, M.Psi., Psikolog. Knp msh pake gelar Psikolog di belakang? Inget: gelar profesi
  • Kalo gak pake #gelarpsi yg gelar profesi itu, Psikolog, maka secara legal dia gak boleh praktek.
  • Nah, #gelarpsi yg agak beda & sedikit menipu masyarakat adlah M.Psi.T. alias Magister Psikologi Terapan
  • Yg bisa ambil #gelarpsi M.Psi.T. adlh dr gelar kesarjanaan manapun, boleh teknik, ekonomi, sastra, hukum, you mention it. Semua boleh
  • Kuliah utk dapet #gelarpsi M.Psi.T. sama spt M.Si. & M.Psi., yaitu 2 tahun. Tp krn bisa dr gelar kesarjanaan lain, tdk smdalam Psikolog
  • Kemampuan #gelarpsi M.Psi.T. adlh melakukan training2 / intervensi terapan kpd masyarakat lwt terapannya ilmu psi
  • Cth keilmuan #gelarpsi M.Psi.T. = psi kesehatan, psi anak usia dini, psi intervensi sosial, psi olahraga, dll
  • Yg dipelajari #gelarpsi M.Psi.T. adlh terapan psi utk masyrkt lbh luas. Jd mrk bs bikin sekolah, konsultan utk NGO dll
  • Jangan salah #gelarpsi yg manapun bisa diterapkan, tp M.Psi.T. memang istilahnya terapan.
  • Nah, #gelarpsi M.Psi.T. ini TIDAK BOLEH praktek sebagai psikolog, karena dia bukan psikolog. Dia hanya ahli psikologi terapan saja
  • Jd masyarakat tdk bs minta tolong #gelarpsi M.Psi.T. utk konseling psikologis, ttd laporan psikologis atau kerjaan2 psikolog lain
  • Moga2 jelas beda antara #gelarpsi M.Psi. dengan M.Psi.T., spy masyarakat gak kena malpraktek oknum tak btanggungjawab
  • Nah skrg #gelarpsi M.Si. yg jg banyak beredar. M.Si. adlh singkatan Magister Sains, kalo di luar M.Sc. gituuuu
  • #gelarpsi M.Si. itu buat yg belajar ilmu psikologi, jadi ilmuwan alias scientist gitu ceritanya, cieeee gedebuk…kepleset….
  • Sy bilang cieee utk #gelarpsi M.Si., krn sy tjebak di dalamnya hihihihihi. Jd gelar resmi sy skrg Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog
  • #gelarpsi M.Si. bisa diambil oleh sarjana dari ilmu apapun, teknik, psi, ekonomi, sastra, dll. Kayak M.Psi.T.
  • Makanya #gelarpsi M.Si. aja (yg diambil oleh mrk yg bkn dr S.Psi.) jg gak boleh praktek
  • Jadi nih inget #gelarpsi yg boleh praktek hny yg ‘Dra./Drs.’, ‘Psikolog’, atau ‘S.Psi., Psikolog’.
  • Nah, mrk yg udah dapet #gelarpsi S.Psi., tp ngelanjutinnya ke M.Psi.T. atau M.Si., tetep gak boleh praktek lho, karena gak ‘lat praktek’
  • Latihan prakteknya itu di Program Profesi / Program Magister Profesi, yg memberikan gelar Psikolog
  • Krn #gelarpsi M.Si. & M.Psi.T. multientri (dr sarjana apapun bisa), maka gelar S.Psi. gak ilang, tetep dipake.
  • OKeh, itu #gelarpsi yg S2 ya. Gelar S3 yah Doktor / Dr. Sy msh bingung krn ada yg nyamain Doktor sama Dokter. Beda atuh!
  • #gelarpsi Doktor belum tentu boleh praktek lho. Cek2 dulu gelar sebelumnya. Kalo ada gelar profesi boleh, kalo gak, ya gak boleh
  • Yah, itu dululah kecerewetan pagi saya ttg #gelarpsi. Moga2 berguna, terutama biar masyrkt gak tertipu.
Nah, oke.. Dari situ kita akan membedakan apa itu psikologi dengan psikiater. So, don’t miss it!
https://i2.wp.com/barisgurkas.com/wp-content/uploads/2014/08/shutterstock_125061815.jpg?resize=640%2C425

Psikolog dan psikiater, mungkin salah satunya karena faktor namanya yang mirip, banyak orang di luar psikologi—orang yang tidak mempelajari ilmu psikologi—yang menganggap kedua titel profesi tersebut (psikolog dan psikiater) sama. Padahal perbedaannya cukup besar, jika tidak mau dibilang benar-benar beda. Berikut penjelasan (agak) singkat mengenai psikolog dan psikiater, dan perbedaan antara keduanya.
Note: Uraian berikut adalah penjelasan untuk para calon mahasiswa yang lagi bingung mo pilih psikologi atau psikiatri.
1. Psikolog
Apa Itu Psikolog. Psikolog adalah titel atau gelar S2 bidang profesi psikologi. Seseorang bisa mendapatkan gelar “…, Psi.” di belakang namanya kalau kuliah S1 dan S2-nya sama-sama di psikologi. Oleh karena itu, orang yang kuliah S1-nya di fakultas psikologi (sekedar informasi, fakultas psikologi di Indonesia untuk S1 tidak ada penjurusan), kalau ingin menjadi psikolog, harus meneruskan S2 di bidang profesi psikologi. Sebab, jika ia meneruskan di bidang sains psikologi, maka gelarnya nanti adalah “…, Msi.” atau magister sains.
Sama halnya jika seseorang yang kuliah S1-nya non-psikologi, namun ingin meneruskan kuliah S2 di bidang psikologi. Orang tersebut mau-tak-mau harus mengambil bidang sains psikologi, sebab bidang profesi psikologi hanya diperuntukkan kepada lulusan S1 psikologi. Oleh karena itu, orang seperti ini bergelar “…, Msi.”, bukan “…, Psi.”
Apa Yang Bisa Dilakukan Psikolog. Seorang psikolog, atau lulusan S2 profesi psikologi, nantinya bisa mendapatkan izin praktek psikologi yang bisa digunakan untuk membuka biro konsultasi sendiri, ataupun bergabung menjadi tenaga konsultan psikologi di biro orang lain. Seorang psikolog juga punya hak untuk ‘memegang’ alat tes psikologi. ‘Memegang’ di sini maksudnya menyimpan, menggunakan dan mengoprasikan, juga menginterpretasikan hasil tes kliennya. Jadi, psikolog juga bisa disebut praktisi psikologi.
Hak ‘memegang’ alat tes psikologi ini hanya dipegang oleh psikolog, dan bukan magister sains psikologi. Namun, sebagai informasi tambahan, magister (sains) psikologi dapat mengembangkan teori psikologi yang sudah ada, dan bisa bekerja sebagai dosen di fakultas psikologi. Oleh karena itu, magister psikologi bisa juga disebut ilmuwan psikologi.
Siapa saja calon mahasiswa yang bisa masuk fakultas psikologi? Semua lulusan SMA/sederajat (SMK, SMIP, MA, dll) dari jurusan manapun (IPA, IPS, Bahasa, atau yang lain) yang berminat belajar psikologi.
Note: tidak semua perguruan tinggi membuka program studi psikologi untuk lulusan IPS, yang berarti semua lulusan SMA/sederajat dari jurusan apapun bisa masuk. Ada perguruan tinggi yang hanya membuka untuk lulusan dari jurusan IPA.
2. Psikiater
Nah, kalo tentang psikiater, saya akan jabarkan mengenai yang saya tau saja, soalnya, bukan bidang saya.

Apa Itu Psikiater. Pertama-tama, yang perlu pembaca ketahui, psikiater adalah dokter yang mempelajari ilmu jiwa. Maksudnya, gelar utamanya dokter, tapi dia mengkhususkan diri untuk ‘mengurusi’ kejiwaan manusia. Biasanya, psikiater adalah dokter (S1) yang meneruskan pendidikannya di bidang psikiatri (S2). Oleh karena itu, seorang psikiater mempunyai gelar “dr. …”, dan biasanya di tulis (di papan nama): (atas) dr. A ,(bawah) Psikiater. Makanya, psikiater juga bisa disebut dokter jiwa.

Apa Yang Bisa Dilakukan Psikiater. Seorang psikiater, karena gelarnya adalah “dokter”, maka orang yang datang untuk ‘berobat’ disebut pasien. Oleh karena itu, psikiater mengobati pasiennya, yang punya masalah kejiwaan, dengan memberikan obat. Kenapa? Karena beberapa penyakit jiwa bisa jadi disebabkan oleh keadaan tubuh yang sedang tidak sehat, atau ada yang bisa disembuhkan atau dikurangi dengan mengobati organ tubuh yang berhubungan dengan gejala kejiwaan yang sedang diderita.
Siapa saja yang calon mahasiswa yang bisa jadi psikiater? Yang pasti sih, dari jurusan IPA. Soalnya, untuk jadi psikiater (S2)  itu harus belajar kedokteran dulu di S1. Namanya juga “dokter jiwa” ! 😉

3. Perbedaan Psikolog Dan Psikiater
Dari segi latar pendidikan. Psikolog adalah lulusan S2 dari program profesi fakultas psikologi, yang juga merupakan lulusan S1 psikologi (gelar S1 psikologi: “…, S.Psi.”). Mahasiswa S1 psikologi adalah lulusan SMA/sederajat dari jurusan IPA, IPS, Bahasa, dan lain-lain.
Sedangkan, psikiater adalah lulusan S2 psikiatri yang merupakan lulusan S1 kedokteran. Kedokteran, selama ini diketahui dapat dimasuki oleh lulusan SMA/sederajat dari jurusan IPA.

Dari segi tugas yang dijalankan. Psikolog menyebut orang yang datang minta bantuannya soal kejiwaan dengan sebutan “klien”. Klien seorang psikolog adalah orang yang sehat jiwanya, atau tidak mengalami gangguan kejiwaan. Oleh karena itu, psikolog membantu kliennya dengan mengadakan konsultasi dan, kalau diperlukan, terapi, untuk menyelesaikan masalah kliennya. Psikolog biasanya bertugas untuk membantu kliennya menemukan apa bakat dan minatnya, lalu bidang pekerjaan atau ilmu apa yang cocok untuknya, dan membantu mencari solusi masalah lainnya. Jadi, psikolog tidak akan memberikan obat pada kliennya. Istilahnya, psikolog itu ‘menyembuhkan dengan kata-kata’. Jika ternyata masalah kliennya lebih berat dan membutuhkan pertolongan obat-obatan, maka psikolog ‘mengoper’-nya, atau minta bantuan, ke psikiater (lihat bahasan tentang psikiater di atas).

Sedangkan, psikiater membantu orang yang mempunyai gangguan kejiwaan, sekecil apapun itu, yang membutuhkan pertolongan obat-obatan untuk mengurangi efek negatifnya. Misalnya, orang yang insomnia (penyakit susah tidur), jika ia berobat ke psikiater, selain diberi nasihat (cara penyelesaian masalah), juga akan diberi obat untuk membantunya mudah tidur. Karena orang yang berobat atau konsultasi ke psikiater biasanya punya gangguan kejiwaan, bukan berarti mereka gila atau sakit jiwa. Jadi, pembaca yang akan konsultasi atau berobat ke psikiater, gak usah takut apakah dirinya sakit jiwa atau dianggap demikian oleh orang lain!

4. Apa Saja Yang Dipelajari Dalam Psikologi?

Sejak diriku membuat blog ini tahun 2008, postingan secara konsisten dikunjungi adalah tulisan tentang Jurusan Psikologi. Banyak sekali komentar utamanya oleh adik-adik yang sudah akan lulus SLTA dan mungkin sedang mencari-cari jurusan apa yang paling cocok dengan keinginan serta disesuaikan dengan kemampuan. Terus terang saya agak kaget kok postingan saya ini termasuk yang rajin dikunjungi, padahal isinya cuma tentang “persaingan antar universitas” 🙂 So, sebelumnya, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas apresiasi orang-orang yang sudah mampir ke blog saya, dan mohon maaf tidak dibalas satu persatu, karena biasanya sudah terjawab di bagian atas jadi tidak saya balas lagi 🙂
Anyway, gara-gara banyaknya komentar itulah, saya jadi ingin berbagi cerita tentang kuliah yang mungkin sudah “usang” karena saking lamanya saya meninggalkan bangku kuliah, tepatnya hampir 10 tahun yang lalu 🙂
Mengawali cerita pagi ini, izinkanlah diriku memperkenalkan diri sekali lagi, agar teman-teman yang membuka blog ini mengetahui latar belakang saya sekaligus dapat membandingkan apa yang saya dapat di universitas tempat saya ngampus belum tentu sama dengan kampus lainnya dan juga belum tentu sama dengan kondisi saat ini.
Saya kuliah di Psikologi (dahulu kala masih tersebut “Program Studi” yang berada di bawah Fakultas Kedokteran, tetapi saat ini sudah menjadi Fakultas sendiri) Universitas Diponegoro, Semarang. Angkatan Noceng (ada jaketnya loh, tulisannya PsikoNoceng, duuhh agak aneh sebenernya, tapi ya sudahlah, ikut aja sama desainer yang mbuat). Btw Noceng itu = angkatan 2000. Lalu lulus akhir tahun 2005 dan diwisuda Januari 2006.
Kuliah psikologi di awal-awal semester, jangan membayangkan langsung ngetes orang ya 🙂 seperti kuliah-kuliah di tempat lain, tentu saja ada namanya pelajaran Kewarganegaraan *sstt saya cuma masuk hari pertama dan hari terakhir (untuk tau info kapan semesteran hehehe), Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dll yang sudah sering “dimakan” pas sekolah.
Nah pelajaran yang paling seru dan belum pernah dapat di sekolah yaitu pelajaran Filsafat. Filsafat itu, katanya, pelajaran paling tua di dunia, sekaligus menjadi mata kuliah paling abstrak yang saya tahu 🙂 Di psikologi, mata kuliah berbau Filsafat (dan yang menyedihkannya, semuanya mata kuliah wajib) ada 4, yaitu Pengantar Filsafat, Filsafat Ilmu & Logika, Filsafat Manusia, dan Filsafat Fenomenologi. Aseeem, dengernya aja baru sekali itu, gimana mempelajarinya 🙂 So, siap-siap saja menguraikan dalam bentuk paper mengenai : mengapa sapi berkaki empat, mengapa manusia bisa berjalan, mengapa saya ada di sini, dll tapi tidak boleh dikaitkan dengan takdir, ketentuan Tuhan, dan sejenisnya 🙂 Dan kita gak akan tahu apa fungsi dan keterkaitan ilmu filsafat ini sampai kita ada di dunia kerja dan berhadapan dengan kasus 🙂 Jadi ya dinikmati saja hidangan kuliah filsafat hingga semester 5 bahkan 7 jika ngulang.
Anyway, dulu saya masih dapat kuliah dengan beban SKS yang cukup banyak, kalau saya tidak salah ingat, saya mengambil hampir 150 SKS, yang terbagi dalam 10 semester. Kalau jaman sekarang, banyak mata kuliah wajib yang dijadikan mata kuliah pilihan, sehingga semester 6 sudah bisa persiapan Skripsi, tapi jaman saya dulu, mata kuliah kayaknya gak abis-abis sampai semester 8, baru bisa konsentrasi memikirkan Tugas Akhir. Itu pun sebenarnya cukup menyedihkan karena faktanya, saya termasuk dalam rombongan S1 yang “tak diakui”.
Maksudnya?
Lulusan S1 Psikologi sebelum tahun 1993 dapat langsung membuka praktik dan dijuluki “psikolog”. Padahal dengan mata kuliah yang tidak terlalu jauh berbeda, karena sewaktu jaman saya kuliah (tahun 2000), mata kuliah Psikodiagnostik (nanti saya cerita ya apa itu mata kuliah psikodiagnostik) seluruhnya harus diambil alias wajib, tidak seperti sekarang yang merupakan mata kuliah pilihan. Jadi rasanya tidak adil karena faktanya saya belajar alat-alat tes dan belajar mengujinya tapi tidak diizinkan untuk membuka praktik dan dijuluki “psikolog” dan harus mengambil kuliah S2 dulu. Pernah saya lihat komentar orang yang intinya “gak susah kok ngambil kuliah S2”. Siapa bilang gak susah, mungkin ente ada di kota besar yang mudah mengakses universitas yang memberikan kuliah S2, tapi buat orang-orang lain yang sulit mengakses kampus, sehingga harus memikirkan biaya, waktu, tenaga untuk lanjut kuliah, it’s a different thing, you know 🙂 -hehehe boleh ya curcol, khan blog sendiri.

Kembali ke…..laptop, yang ditulis dengan huruf miring itu boleh dibaca boleh tidak, karena pendapat pribadi 🙂
Selain mata kuliah Filsafat, mata kuliah lain yang wajib orang tahu sebelum masuk psikologi adalah Statistik. Ya, banyak orang yang salah mengira, masuk psikologi tidak akan ketemu dengan pelajaran hitung-hitungan, dan berharap dengan masuk psikologi, maka tidak akan pusing dengan matematika 🙂
Walaupun tidak terlalu njlimet, namun Statistika adalah ilmu yang perlu diwaspadai, heheee.. karena kebanyakan ya itu, teman-teman saya (termasuk yang ngomong), biasanya masuk ilmu sosial berharap tidak bertemu ilmu pasti, karena lemahnya disana. Statistika biasanya terbagi atas Stat 1, Stat 2. Ilmu ini dibutuhkan nantinya untuk menyusun Skripsi. Pernah lihat kan mahasiswa psikologi nyebarin kuesioner? Nah, setelah kuesioner disebar, akan diolah menggunakan ilmu ini, dengan bantuan software SPSS.
Selain mata kuliah yang mendasar dan “kelihatannya” tidak memiliki hubungan langsung dengan ilmu psikologi, tentu saja ada mata kuliah-mata kuliah yang memang mempelajari tentang ilmu psikologi, di awal-awal semester, mata kuliah yang biasa diberikan antara lain :
1. Psikologi kepribadian – mempelajari sejarah dan filosofi dasar pengelompokan kepribadian-kepribadian, jenis-jenis kepribadian, dll.
2. Psikologi umum – mempelajari seluruh aspek ilmu psikologi, jadi lebih ke perkenalan apa saja yang dipelajari dalam psikologi.
3. Psikologi klinis – mempelajari tentang masalah-masalah kejiwaan, jenis-jenis penyakit kejiwaan, sampai ke bagaimana penanganannya.
4. Psikologi perkembangan – mempelajari ilmu perkembangan manusia mulai dari lahir sampai tua.
Kalau masih awal-awal semester biasanya semuanya dipelajari secara umum, jika sudah mulai menjurus, misalnya psikologi perkembangan, mulai dipisah-pisah, misalnya ada psikologi perkembangan anak, psikologi untuk manula, dsb. yang biasanya berupa mata kuliah pilihan.

Baca Juga Artikel Tentang Psikologi : Ini Dia Pengalaman Kuliah di Jurusan Psikologi

Thanks buat referensi: dhilazein.wordpress.com, virgianti.wordpress.com & heyinishanti.blogspot.co.id

Pencarian :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *