Kepala Sekolah Mengejar Sarjana ?

Kepala SDN 04 Pagi Teluk Alulu, Pulau Maratua, Berau, Kaltim, Agus Purwo Utomo. (Foto: Rifa Nadia/Okezone)
Kepala SDN 04 Pagi Teluk Alulu, Pulau Maratua, Berau, Kaltim, Agus Purwo Utomo. (Foto: Rifa Nadia/Okezone)

MARATUA – Di kota, kita mungkin bertemu kepala-kepala sekolah berpendidikan tinggi. Bisa jadi, banyak yang sudah memiliki gelar master. Namun di pulau terluar Indonesia, Maratua, di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), sang kepala sekolahnya bahkan belum sarjana.
Agus Purwo Utomo baru dua tahun menjabat sebagai kepala SDN 04 Teluk Alulu, Maratua. Pendidikannya baru sebatas SMA. Menyadari pentingnya pendidikan kesarjanaan bagi kompetensinya sebagai kepala sekolah, Agus pun mengikuti kuliah di Universitas Terbuka (UT).
Ada tujuh guru PNS di SDN 04 Pagi Teluk Alulu, termasuk Agus. Selain itu ada juga dua guru PTT yang dikontrak pemerintah daerah setempat dan satu guru honorer.
“Dari kesemuanya, baru tiga yang sarjana. Lainnya masih lulusan SMA,” tutur Agus ketika berbincang dengan Okezone di sela-sela kegiatan Menyapa Negeriku di Maratua, baru-baru ini.

Saat ini ada tiga guru yang sedang mengejar gelar sarjana, termasuk Agus. Mereka kuliah dengan beasiswa dari pemerintah.
Sistem pendidikan jarak jauh di UT memungkinkan Agus dan para guru tetap menempuh studi tanpa meninggalkan pulau terlalu lama. Maklum, akses ke pulau terluar ini begitu sulit. Untuk mencapai Maratua, kita perlu menempuh jalan sungai dan laut selama sekira empat jam dari Berau.
“Itu pun tidak ada transportasi reguler. Jadi kalau mau menghadiri sesi tutorial di Unit Pendidikan Jarak Jauh (UPJJ) di Berau, kami para guru harus patungan menyewa speed boat ke kota,” imbuhnya.
Harga sewa kapal cepat berkapasitas 20 orang itu tidak murah. Sekali jalan, tarifnya Rp2 juta. Jika dihitung per kepala, maka setiap orang harus membayar Rp200 ribu. Artinya, sedikitnya para guru di perbatasan Indonesia dengan Filipina itu harus merogoh kocek hingga Rp400 ribu hanya untuk ongkos ke tempat kuliah. Belum lagi biaya transportasi tambahan maupun kebutuhan lain di kota.
Agar tidak mengganggu kestabilan kegiatan belajar mengajar, Agus bergantian dengan guru lainnya untuk pergi ke kota. Setiap bulan, mereka harus menghadiri empat kali pertemuan tatap muka di UPJJ Berau. Tutornya merupakan para dosen dosen dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda dan perguruan tinggi lainnya di Kaltim. Setelah kuliah, mereka pun harus membayar kekosongan jam belajar yang ditinggalkan.
“Harus diganti karena ini hak pendidikan anak-anak. Kasihan kalau mereka kehilangan hak tersebut,” ujar Agus.

Mengelola sekolah dengan 103 siswa di daerah terluar Indonesia tidaklah mudah. Pria kelahiran Tuban, 11 Agustus 1977 itu bercerita, fasilitas sudah tentu minim. Meski bangunan sekolah sudah cukup permanen, para guru kekurangan perlengkapan mengajar seperti alat peraga.
Namun, keterbatasan tidak menyurutkan semangat Agus untuk terus mengajar. Apalagi kesadaran pendidikan masyarakat kian baik. Hal itulah yang memotivasinya mengelola waktu seoptimal mungkin untuk mendidik, kuliah dan keluarga.
“Kesulitan sudah pasti ada. Tapi kan sudah kewajiban untuk terus belajar. Belajar juga tidak mengenal batas usia. Apalagi untuk guru yang harus selalu meningkatkan kompetensinya,” tegas Agus.
Pria yang sedang menanti kelahiran anak kedua itu kini tinggal menunggu yudisium dari UT. Sebagai tugas akhir, Agus melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Dia meneliti apa saja kesulitan belajar anak didiknya di kelas, menganalisa penyebabnya hingga merumuskan solusinya.
Jika semua lancar, maka tidak lama lagi Agus akan menjadi sarjana. Namun bagi mantan guru SDN 04 di Pulau Derawan, Berau, Kaltim tersebut, sarjana bukanlah tujuan akhir.
“Saya ingin terus meningkatkan kompetensi. Ingin kuliah lagi mengambil studi S-2,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *