Pengalaman Kuliah Jurusan Sastra Inggris

 

(kata kerja) kursus bahasa Inggris setingkat perguruan tinggi
(kata benda) novel, puisi, cerpen, novel lagi, puisi lagi, cerpen lagi
Kedua definisi ini adalah anggapan yang dipercaya oleh sebagian anak SMA (dan masyarakat umum) tentang jurusan Sastra Inggris. Jika kamu adalah orang yang percaya bahwa kuliah Sastra Inggris enggak ada bedanya sama les bahasa Inggris, kamu salah besar! Sangat disarankan mahasiswa lebih dahulu menguasai bahasa Inggris karena nantinya kuliah akan disampaikan dalam bahasa Inggris.
Bagaimanapun, kalau kamu merasa belum pede dengan kemampuanmu, kamu masih bisa mengejarnya di semester awal kuliah. Rata-rata, jurusan Sastra Inggris selalu menyediakan mata kuliah dasar seperti grammar, listening, speaking, reading, dan writing yang memiliki level kesulitan yang berjenjang dan menjadi mata kuliah prasyarat—artinya harus lulus Basic 1 baru lanjut Basic 2, dan seterusnya.

Mulai semester tiga, mata kuliah akan mulai bergejolak. Literally! Kita akan disuguhkan dengan mata kuliah “menu utama” seperti filsafat dan teori dasar linguistik, literature and cultural studies.
Jika orang bertanya, “Di Sastra Inggris kamu belajar apa sih?” Jawab saja, “Bahasa.” Bahasa adalah salah satu unsur pembentuk kebudayaan, menurut Koentjoroningrat, sama seperti teknologi dan agama. Belajar di Sastra Inggris, kamu akan menguliti keajaiban bahasa dan dampak yang ditimbulkannya pada masyarakat dan peradaban kita.

For your information, Sastra Inggris masuk dalam rumpun ilmu humaniora, karena memang di jurusan ini kita mempelajari kemanusiaan (humanity) dan budaya-budaya yang dihasilkannya (culture). Yang paling seru adalah kita akan dapat kesempatan memahami manusia dan dunia dari sudut yang lebih jujur.

Di jurusan Sastra Inggris, ada tiga peminatan: Literature, Cultural Studies, dan Linguistics. Jika kamu berminat dengan karya sastra klasik maupun modern dan ingin menemukan hal-hal filosofis yang ada pada teks beserta siapa sastrawan pembuatnya, silahkan tekuni minat Literature. Di kajian budaya atau Cultural Studies, obyek yang kamu teliti lebih beragam dan kekinian. Kamu akan bergelut dengan teks budaya popular, seperti film, iklan, majalah, sampai internet. Kamu akan terkaget-kaget dengan makna-makna tersembunyi yang ada dalam teks dan dampaknya dalam kelakuan manusia sehari-hari. Ketiga, minat Linguistics. Dalam cabang ilmu linguistik, kata dan kalimat adalah objek yang kita bongkar satu per satu, kita teliti dan perlakukan selayaknya pasien yang memiliki anatomi.
Di Sastra Inggris kamu juga akan (tentu saja) belajar filsafat dan anak-anaknya: psikologi, sosiologi, sejarah, politik, dan cabang ilmu humaniora lainnya. Belajardi Sastra Inggris memberimu kesempatan untuk melihat dunia dari berbagai sudut pandang—lalu mengkritisinya. Dalam sebuah studi pada tahun 2014 oleh National Center for Higher Education Management Systems and the Association of American Colleges and Universities kepada karyawan di Amerika, disebutkan bahwa ilmu humaniora dan liberal arts adalah bidang ilmu yang sangat penting untuk dikuasai. Menurut Daniel Moss Lee, CEO Harlem Education Activities Fund di artikel ini, rumpun ilmu humaniora dan liberal arts akan dibutuhkan 5-10 tahun mendatang bahkan melebihi bidang praktis lainnya.
Pekerjaan apa yang bisa diselami alumni Sastra Inggris? Selain mata pencaharian lazim seperti jurnalis, dosen, penulis, peneliti, seniman, budayawan, seorang penekun Sastra Inggris bisa menjadi wirausaha (kursus bahasa Inggris atau biro penerjemah). Jangan anggap menerjemah—apalagi menerjemah karya fiksi itu hal mudah!? ._.

Seorang translator/penerjemah harus memahami konteks budaya di dalam karya yang akan ia terjemahkan itu. Ia harus menerjemah joke di dalam novel berbahasa Inggris yang mampu membuat pembaca Indonesia merasakan efek terpingkal-pingkal yang sama dengan yang dirasakan orang Inggris ketika membaca novel yang sama, atau sebaliknya.

image

Sumber: aiic.net
Selain itu, jurusan Sastra Inggris juga menyediakan mata kuliah praktis seperti Public Relation, Entrepreneurship, dan Business Correspondence. Sebagai seorang alumni Sastra Inggris, kamu juga bisa menjadi interpreter. Di seminar/forum Internasional, interpreter bertugas untuk menangkap materi yang disampaikan pemateri, lalu menjelaskan lagi kepada audiens dalam bahasa asli mereka—dengan konten dan maksud yang sama. Menjadi interpreter memerlukan pengetahuan yang luas.
Kemudian, di Indonesia, jumlah linguis (ahli linguistik) sangat minim, apalagi forensic linguist. Forensic linguist menganalisa berkas berita acara di pengadilan lewat kemampuan sintaksis (salah satu cabang ilmu linguistik) yang berhubungan dengan kinerja otak yang  bisa dirunutnya, lewat sintaksis dan juga psikoanalisis.
Masih ada banyak lagi keseruan belajar di Sastra Inggris yang akan mengasah pemahamanmu tentang manusia dan dunia di sekitarnya—di sekitar kita.

Having a major in English, I have chosen the road less travelled by and I found the magic lies within people.
– Robert Frost (dengan berbagai gubahan)

 *
Anisah Fathiroh | @nezhafath
Sastra Inggris 2012, Universitas Airlangga
nezhafath.tumblr.com

Pencarian :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *